Ada Ujian Buat Rupiah Hari Ini, FMOC hingga Data Inflasi

Jakarta, CNBC Indonesia РRupiah terpantau kembali menguat dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS), semakin menjauhi level psikologis Rp15.900/US$ kendati berbagai sentimen masih akan menerpa hari ini baik dari domestik dan global.

Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup pada posisi Rp15.880/US$, menguat 0,03% pada perdagangan sepanjang Selasa (31/10/2023). Penguatan tersebut melanjutkan sehari sebelumnya sebesar 0,31%.

Read More

Rupiah yang menguat sejalan dengan kondisi pasar SBN yang mulai bergairah, terpantau imbal hasil mulai menurun yang menandai naiknya harga obligasi karena SBN sudah mulai dicari investor.

SBN tenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) turun tipis menjadi 7,07% pada perdagangan kemarin. Imbal hasil lebih rendah dari Senin yakni 7,12%. berdasarkan data Refinitiv.

Hari ini, Rabu (1/11/2023) yang sekaligus mengawali awal November, mata uang Garuda masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Dari dalam negeri, sentimen akan datang dari data inflasi Oktober serta PMI Manufaktur Oktober. Sementara dari luar negeri, sentimen akan datang dari data aktivitas manufaktur sejumlah negara, data tenaga kerja AS, serta puncaknya pengumuman suku bunga The Fed.

Pertama dari dalam negeri Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Oktober 2023 pada hari ini Rabu (1/11/2023) pukul 11:00 WIB.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 11 institusi memperkirakan inflasi Oktober 2023 akan mencapai 0,26% dibandingkan bulan sebelumnya (mtm).

Hasil polling juga memperkirakan inflasi (year on year/yoy) akan berada di angka 2,65% pada bulan ini. Inflasi inti (yoy) diperkirakan mencapai 2,00%. Sebagai catatan, inflasi pada September 2023 tercatat 2,28% (yoy) dan 0,19% (mtm) sementara inflasi inti mencapai 2,00% (yoy).

Berikutnya, S&P akan mengumumkan aktivitas manufaktur untuk sejumlah negara mulai dari Indonesia hingga Amerika Serikat.

Sebagai catatan, untuk periode September 2023, PMI manufaktur Indonesia ada di angka 52,3. Indeks jauh lebih rendah dibandingkan pada Agustus 2023 yang tercatat di 53,9. Indeks PMI pada September adalah yang terendah dalam empat bulan terakhir.

Meski melandai, PMI manufaktur Indonesia sudah berada dalam fase ekspansif selama 25 bulan terakhir. Jika PMI Indonesia kembali jeblok maka ini harus menjadi alarm karena bisa menjadi sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Australia, Jepang, China, AS, hingga negara-negara Eropa juga akan merilis data manufaktur pekan ini.Aktivitas manufaktur negara-negara tersebut menjadi penting karena merupakan negara tujuan ekspor Indonesia.

Mayoritas negara-negara tersebut mencatat perbaikan aktivitas manufaktur pada September lalu. Aktivitas manufaktur AS bahkan sudah mampu kembali ke zona ekspansif.

Biro statistic China (NBS) Selasa kemarin sudah mengumumkan data PMI Manufaktur China untuk Oktober 2023. PMI kembali ke zona kontraksi 49,5 pada Oktober dari fase ekspansif 50,2 pada September.

Terakhir, hari ini juga masih akan berlangsung rapat FOMC dari bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed). Hasil pengumuman perkiraan akan didapatkan pada waktu dini hari besok. Kamis (2/11/2023).

Penting untuk dicermati bagaimana hasil rapat the Fed beserta pidato dari Jerome Powell, Chairman The Fed yang akan memberikan gambaran seberapa jauh era suku bunga tinggi bakal bertahan.

Teknikal Rupiah

Tren pergerakan rupiah dalam basis waktu per jam, terpantau sudah mulai sideways, setelah selama beberapa pekan kuat melemah. Posisi semakin menjauhi level psikologis Rp15.900/US$ yang kini sudah bisa dicermati sebagai resistance atau potensi pelemahan rupiah dalam jangka pendek apabila pergerakan harga berbalik arah.

Kemudian perlu dicermati juga posisi penguatan yang potensi diuji selanjutnya pada Rp15.840/US$, posisi ini didapatkan dari low candle pada 24 Oktober 2023.




Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

 

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Rupiah 3 Hari Perkasa, Akankah Tren Positif Berlanjut?

(tsn/tsn)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts