Bursa Asia Cenderung Tidak Kompak, Gegara The Fed?


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia Bursa Asia-Pasifik terpantau cenderung beragam pada perdagangan Kamis (22/2/2024), menjelang rilis data aktivitas manufaktur di beberapa negara di kawasan tersebut.

Per pukul 08:00 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,52% dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,59%, sedangkan untuk indeks Straits Times Singapura dan ASX 200 Australia turun tipis masing-masing 0,09% dan 0,08%.

Data awal dari aktivitas manufaktur periode Februari 2024 akan dirilis di beberapa negara di Asia-Pasifik. Adapun negara-negara tersebut yakni Australia dan Jepang,

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung beragam terjadi di tengah bervariasinya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 ditutup menguat 0,13%. Sedangkan Nasdaq Composite berakhir melemah 0,32%.

Nasdaq kembali terkoreksi, terbebani lagi oleh saham-saham teknologi kemarin.

Nvidia dijadwalkan untuk mempublikasikan hasil fiskal kuartal keempat setelah penutupan. Kekhawatiran seputar valuasi Nvidia yang tinggi semakin meningkat menjelang pengumuman tersebut, karena saham pembuat chip tersebut telah melonjak hampir 230% selama setahun terakhir. Saham turun 2,85% pada hari Rabu.

Di lain sisi, pasar cenderung sedikit kecewa dengan risalah rapat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), di mana he Fed kembali mengindikasikan pada pertemuan terakhir mereka bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga dan menyatakan optimisme dan kehati-hatian terhadap inflasi.

Keputusan pemangkasan suku bunga akan diambil jika pejabat The Fed memiliki keyakinan yang besar bahwa inflasi terus melandai.

“Sebagian besar partisipan menekankan risiko jika melonggarkan stance kebijakan lebih cepat dan menekankan penting untuk menilai data-data mendatang dengan hati-hati untuk memastikan apakah inflasi memang akan berlanjut turun ke 2%,” tulis FOMC, dikutip dariCNBC International.

Ringkasan rapat tersebut jugamenunjukkan adanyarasa optimisme secara umum bahwa langkah kebijakan The Fed telah berhasil menurunkan laju inflasi yang pada pertengahan tahun 2022 mencapai level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun.

Namun, para pejabat mencatat bahwa mereka ingin melihat lebih banyak hal sebelum mulai melonggarkan kebijakan, sambil mengatakan bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan besar akan berakhir.

Sebelum pertemuan tersebut, serangkaian laporan menunjukkan bahwa inflasi meskipun masih tinggi namun sudah mengarah menuju target The Fed sebesar 2%.

Meskipun notulensi tersebut menilai “kemajuan solid” yang telah dicapai, komite memandang beberapa kemajuan tersebut sebagai sesuatu yang “istimewa” dan mungkin disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak akan bertahan lama.

Oleh karena itu, para anggota mengatakan mereka akan “menilai dengan hati-hati” data yang masuk untuk menilai ke mana arah inflasi dalam jangka panjang. Para pejabat mencatat adanya risiko positif dan negatif serta khawatir akan penurunan suku bunga yang terlalu cepat.

Sebagai catatan, data inflasi dari sisi konsumen AS sendiri naik menjadi 3,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2024. Angka ini di atas ekspektasi pasar yakni 2,9% meskipun mengalami pelandaian dari sebelumnya 3,4% (yoy).

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Dibuka Merana Lagi, Kenapa ya?

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts