China Chaos, Bursa Asia Ditutup Ambles

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Asia-Pasifik ditutup berjatuhan pada perdagangan Senin (28/11/2022), di mana ketegangan di China akibat kebijakan pembatasan wilayah (lockdown) ketat┬ápandemi Covid-19 membuat investor khawati

Read More

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,42% ke posisi 28.162,83, Hang Seng Hong Kong ambles 1,57% ke 17.297,94, Shanghai Composite China terkoreksi 0,75% ke 3.078,55, Straits Times Singapura turun 0,14% ke 3.240,06, ASX 200 Australia terpangkas juga 0,42% ke 7.229,1, KOSPI Korea Selatan merosot 1,21% ke 2.408,27, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terdepresiasi 0,51% menjadi 7.017,36.

Kebijakan lockdown secara ketat yang masih diberlakukan di China membuat masyarakat geram dan melakukan demonstrasi besar-besaran di seluruh China dari Minggu malam waktu setempat hingga kini.

Gelombang protes sipil belum pernah terjadi sebelumnya di China daratan sejak Presiden Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade lalu. Kini. warga diselimuti rasa frustrasi atas kebijakan nol-Covid dari Xi Jinping 3 tahun setelah pandemi merebak.

Bahkan, beberapa pengunjuk rasa bahkan menuntut pengunduran diri Presiden China Xi Jinping.

Hal ini membuat investor khawatir bahwa ketegangan tersebut akan berdampak kepada ekonomi China. Maklum saja, China merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di dunia, saat kerusuhan terjadi dan berdampak pada roda bisnis, maka negara lain akan terkena dampaknya.

“Sentimen telah berubah menjadi masam ketika kerusuhan di seluruh China tumbuh,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management, dikutip dari AFP.

“Protes sejauh ini jarang terjadi di negara ini dan menimbulkan banyak ketidakpastian,” tambah Innes.

Kondisi pandemi Covid-19 yang kembali mengkhawatirkan membuat pemerintah China terus memberlakukan kebijakan Zero Covid. Per Sabtu lalu, China melaporkan 39.791 infeksi Covid-19 baru, di mana 3.709 di antaranya bergejala dan 36.082 tidak menunjukkan gejala.

Rekor tersebut bahkan belum termasuk angka infeksi impor, dimana China melaporkan 39.506 kasus lokal baru, 3.648 di antaranya bergejala dan 35.858 tidak bergejala, naik dari 34.909 sehari sebelumnya.

Terkait hal ini, otoritas kesehatan kota Beijing memperketat pencegahan dan pengendalian pandemi Covid-19. Selain menutup sekolahan, restoran, dan pusat keramaian, otoritas setempat juga memberlakukan lockdown secara parsial.

Distrik Chaoyang yang merupakan kawasan perkantoran dan perwakilan pemerintah asing serta kawasan permukiman bagi warga asing itu paling parah terkena lonjakan kasus Covid-19 terkini.

Sejak dua pekan yang lalu, otoritas kesehatan Kota Beijing telah mengingatkan warga Ibu Kota agar tidak keluar rumah, kecuali untuk urusan yang sangat mendesak. Warga Ibu Kota juga diwajibkan melakukan tes PCR setiap hari di pos-pos tes PCR terdekat.

Di lain sisi, investor juga cenderung wait and see jelang rilis data ekonomi penting pada pekan ini, terutama data manufaktur periode November 2022.

Pasar juga akan menantikan komentar lebih lanjut dari pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).

Selain itu, pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan ini, yang dapat memberikan petunjuk tentang langkah The Fed selanjutnya. Sedangkan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell dan pembuat kebijakan utama lainnya juga akan dipantau oleh pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Kode Keras Buat IHSG, Bursa Asia Melesat!

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts