DPK Lesu & Giro Terkontraksi, Ekonom: Masyarakat Efisiensi


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Laporan Bank Indonesia soal perkembangan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2), menunjukkan dana pihak ketiga (DPK) pada bulan Oktober 2023 hanya tumbuh sebesar 3,9% yoy. Bila dirinci, pertumbuhan giro anjlok jauh menjadi 1,8% pada Oktober 2023, dari yang sebulan sebelumnya double digit 11,0%.

Berdasarkan jenisnya, semua mengalami perlambatan yang signifikan. Giro korporasi tercatat sebesar Rp1.878,1 triliun atau tumbuh 5,6% yoy, namun melambat dari sebulan sebelumnya sebesar 13,8% yoy. Giro perorangan anjlok jadi -15,3% yoy, jauh dari sebulan sebelumnya sebesar 1,5% yoy. Sedangkan giro lainnya turun -4,8% yoy dari sebulan sebelumnya sebesar 1,5% yoy.

Ekonom menilai kontraksi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sudah menggunakan tabungannya. Menurut Ekonom Senior INDEF Aviliani, hal ini baik karena masyarakat biasanya menggunakan tabungannya untuk modal kerja.

“Kontraksi itu bagus karena pasti ada penggunaan untuk modal kerja atau mereka mengurangi pinjaman karena bunga tinggi untuk operasional. Jadi bank itu sekarang juga melakukan efisiensi, karena dengan bunga yang tinggi otomatis kan kena di margin,” ujarnya usai Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), Rabu (29/11/2023).

Oleh karena itu, Aviliani menyebut penyebab kontraksi ini disebabkan oleh orang-orang yang ingin efisiensi menggunakan dengan uang sendiri atau mengurangi jumlah pinjaman.

“Tapi sih so far kalau lihat kinerja perusahaan itu so far masih bagus-bagus ya. Walaupun kinerja keuangannya itu masih laba nggak menanjak secara signifikan,” jelasnya.

Sementara itu, BI melaporkan pertumbuhan DPK melambat jadi 3,43% yoy per Oktober 2023, turun dari sebulan sebelumnya sebesar 6,54% yoy. Aviliani menilai perlambatan ini terjadi karena masyarakat mulai menggunakan tabungannya untuk berinvestasi.

“DPK melambat karena cenderung sekarang orang Indonesia sudah mulai main di investasi. Investasi itu cenderung sekarang kan kecil-kecil Rp1000.000 kita bisa beli SBN (Surat Berharga Negara), reksa dana. Jadi memang yang harus dilihat jangan hanya DPK saja, tapi berapa banyak masyarakat kita yang pindah dari DPK ke investasi gitu,” tandasnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Pertumbuhan DPK Melambat, Alarm Likuiditas Bank Menyala?

(fsd/fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts