Efek Pidato Powell, Minyak Mentah Sepekan Longsor

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia ditutup lebih tinggi pada pembukaan perdagangan Jumat (25/8/2023), melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis sebelumnya.

Read More

Harga minyak mentah WTI di tutup menguat 0,99% ke posisi US$79,83 per barel, begitu juga harga minyak mentah brent di tutup melesat 1,34% ke posisi US$84,48 per barel.

Namun, dalam sepekan harga minyak mentah WTI terkoreksi 1,75% dan minyak mentah brent turun 0,38%. Penurunan dalam sepekan dipengaruhi oleh kekhawatiran para pelaku pasar mengenai pidato Powell pada Jumat kemarin.

Powell berupaya untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama, namun tetap bergantung pada data.

Dalam pidatonya pada pertemuan puncak ekonomi di Jackson Hole, Wyoming, dimana para pengambil kebijakan akan “melakukan tindakan dengan hati-hati saat akan memutuskan apakah akan melakukan pengetatan lebih lanjut,” namun bank sentral belum menyimpulkan bahwa suku bunga acuannya cukup tinggi untuk mendukung kebijakan tersebut yang dimana memastikan inflasi kembali ke target 2%.


Sementara kenaikan harga minyak WTI dan brent pada hari Jumat adalah tertinggi sejak Senin (21/8/2023). Kenaikan ini didorong oleh harga solar Amerika Serikat (AS) yang melonjak, jumlah rig minyak turun dan kebakaran yang terjadi di kilang di Louisiana.

“Hal utama adalah kekhawatiran mengenai harga solar, penyebaran bahan bakar diesel, dan kekhawatiran tentang kekurangan solar ketika kilang sedang melakukan pemeliharaan,” ucap Phil Flynn, analis di Price Futures Group. Dia juga menambahkan harga minyak mendapat dukungan dari kebakaran di kilang Louisiana dan jatuhnya anjungan minyak AS.

Namun, data ekonomi yang lemah dan penguatan dolar masih membatasi kenaikan harga minyak. Untuk minggu ini, Brent turun 0,38% dan WTI terkoreksi 1,75%.

Kebakaran di tangki penyimpanan nafta raksasa berhasil diatasi pada Jumat sore di kilang MPC Marathon Petroleum dengan kapasitas produksi 596.000 barel per hari (bpd) di Garyville, Louisiana.

Pada bulan Agustus, perusahaan-perusahaan energi AS mengurangi jumlah rig minyak aktif selama sembilan bulan berturut-turut, ungkap perusahaan jasa energi Baker Hughes (BKR.O) dalam laporannya.

Harga minyak mentah naik meskipun ada berita ekonomi yang lemah dari Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di Eropa, dan dolar AS.DXY=USD naik ke level tertinggi dalam 11 minggu terhadap sejumlah mata uang lainnya setelah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk melawan inflasi.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan minyak. Penguatan dolar juga dapat memperlambat permintaan karena membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, sentimen konsumen AS sedikit turun pada bulan Agustus, seiring memburuknya ekspektasi inflasi jangka pendek dan jangka panjang.

Analis di Morgan Stanley mengatakan mereka memperkirakan harga Brent akan didukung dengan baik di kisaran US$80 per barel, dengan minyak mentah kemungkinan akan tetap mengalami defisit selama sisa tahun ini sebelum kembali ke surplus kecil pada awal tahun 2024.

Namun kemungkinan defisit minyak mentah tidak dapat dipastikan, ucap John Evans dari pialang minyak PVM.

Perusahaan energi Norwegia, Equinor (EQNR.OL) misalnya, mengatakan pihaknya memulai produksi di ladang Statfjord Ost yang diperluas enam bulan lebih cepat dari jadwal.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Minyak Dapat Kabar Baik dari AS, Namun Ada Halangan di China

(saw/saw)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts