IHSG Ditutup Loyo, Emiten Prajogo Pangestu Jadi Biang Kerok


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (15/1/2024), meski ada kabar baik dari dalam negeri.

IHSG ditutup melemah 0,24% ke posisi 7.224. Dengan demikian IHSG masih berada di level psikologis 7.200 dan belum mampu untuk kembali ke level psikologis 7.300.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan hari ini mencapai sekitaran Rp 10 triliun dengan melibatkan 18 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali. Sebanyak 256 saham naik, 284 saham turun, dan 235 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi pemberat IHSG pada hari ini, yakni sebesar 0,76%. Namun, sektor transportasi dapat menahan koreksi IHSG yakni sebesar 3,01%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.










Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Chandra Asri Petrochemical TPIA -10,52 3.230 -9,27%
Barito Renewables Energy BREN -10,47 4.430 -5,74%
Bank Mandiri (Persero) BMRI -6,83 6.500 -1,14%
Astra International ASII -3,38 5.525 -1,34%
Barito Pacific BRPT -3,24 1.015 -4,69%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI -2,93 5.825 -0,43%

Sumber: Refinitiv

Tiga saham Prajogo Pangestu kembali menjadi pemberat IHSG pada hari ini, dengan saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi top laggard IHSG hari ini, yakni masing-masing 10,5 indeks poin dan 10,47 indeks poin.

Sedangkan untuk saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga menjadi laggard IHSG, tetapi tidak sebesar TPIA dan BREN, yakni sebesar 3,2 indeks poin.

Selain itu, saham perbankan terbesar keempat di bursa yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menjadi laggard IHSG yakni sebesar 6,8 indeks poin.

IHSG yang terkoreksi terjadi meski data neraca perdagangan RI periode Desember 2023 kembali mencetak surplus. Badan Pusat Statistik (BPS)mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 3,3 miliar pada Desember 2023. Surplus ini jauh lebih besar dibandingkan US$ 2,41 miliar pada November 2023.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan surplus pada bulan Desember ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, namun leibh rendah pada Mei 2022.

“Surplus Desember 2023 ditopang surplus komoditas nonmigas yaitu US$ 5,20 miliar dengan komoditas penyumbang adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, besi baja,” kata Pudji.

Surplus pada akhir 2023 diperoleh setelah ekspor Indonesia mencatatkan nilai lebih besar dari impor, yakni ekspor US$ 22,41 miliar dan impor US$ 19,11 miliar.

Surplus ini sejalan dengan proyeksi pasaryang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 lembaga. Konsensus ini memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Desember 2023 akan mencapai US$ 1,95 miliar. Surplus tersebut lebih rendah dibandingkan November 2023 yang mencapai US$ 2,41 miliar.

Secara kumulatif, BPS mencatat total surplus Indonesia US$ 36,93 miliar hingga akhir 2023. Pudjimengungkapkan surplus ini lebih rendah US$ 17,52 miliar atau 33,46% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


IHSG Kebakaran! Sektor Teknologi Jadi Beban Terbesar

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts