IHSG Ditutup Turun 0,09% Hari Ini, 6 Saham Ini Jadi Beban


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (1/2/2024), setelah sempat menguat pada perdagangan sesi I hari ini.

IHSG ditutup turun tipis 0,09% ke posisi 7.201,696. IHSG masih bertahan di level psikologis 7.200 pada perdagangan hari ini.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 10 triliun dengan melibatkan 18 miliaran saham yang diperdagangkan sebanyak 1,2 juta kali. Sebanyak 219 saham menguat, 297 saham terkoreksi dan 246 saham cenderung mendatar.

Secara sektoral, sektor transportasi menjadi pemberat terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 1,56%. Selain itu, sektor keuangan dan energi juga menjadi pemberat IHSG masing-masing 1,3% dan 1,01%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.










Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Sinarmas Multiartha SMMA -10,37 14.675 -9,13%
Bank Mandiri (Persero) BMRI -9,10 6.550 -1,50%
Merdeka Copper Gold MDKA -5,06 2.520 -6,67%
Barito Renewables Energy BREN -3,88 4.850 -2,02%
DCI Indonesia DCII -2,74 36.000 -6,49%
Indofood CBP Sukses Makmur ICBP -1,15 11.575 -1,70%

Sumber: Refinitiv

Emiten jasa keuangan Grup Sinarmas yakni PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi pemberat terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 10,4 indeks poin.

Selain itu, ada saham perbankan raksasa yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang memberatkan indeks sebesar 9,1 indeks poin.

Pergerakan IHSG pada hari ini cenderung volatil, meski volatilitasnya masih cenderung kecil, karena di sesi I hari ini sebagian besar cenderung menguat.

Gerak IHSG pada hari ini terbilang lebih baik dibandingkan dengan bursa Asia-Pasifik dan bursa Amerika Serikat (AS) yang berjatuhan setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) mengindikasikan belum akan memangkas suku bunga acuannya dalam waktu dekat, membuat pasar kembali kecewa akan keputusan tersebut.

Namun, The Fed yang kembali menahan suku bunga acuannya sudah sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya, sehingga mereka berfokus pada pernyataan terkait arah kebijakan moneter ke depannya.

Sebagaimana diketahui, The Fed telah mengerek suku bunga sebesar 525 basis poin (bp) sejak Maret 2022 hingga Juli tahun ini sebelum menahannya pada September, November, Desember 2023, dan Januari 2024. Pertemuan The Fed selanjutnya akan digelar pada 19-20 Maret 2024.

The Fed dalam pernyataan resminya mengatakan pemangkasan suku bunga tidak layak dilakukan selama mereka belum yakin jika inflasi bergerak ke arah 2%.

“Kami merasa tidak patut untuk mengurangi target sasaran (suku bunga) sampai kami merasa lebih percaya diri jika inflasi sudah bergerak ke target sasaran 2%. Komite sangat berkomitmen untuk membawa inflasi ke target sasaran 2%. Inflasi sudah melandai dalam setahun terakhir tetapi kamu masih memberi perhatian penuh terhadap risiko inflasi” tutur pernyataan The Fed dalam situs resminya.

Keinginan pelaku pasar melihat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat sepertinya belum akan terwujud. Chairman The Fed, Jerome Powell dalam konferensi pers, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, mengatakan jika ekonomi AS saat ini masih sangat kuat.

Dengan ekonomi dan inflasi AS yang masih kuat, Powell menegaskan jika The Fed belum cukup percaya diri untuk memangkas suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret mendatang.

“Berdasarkan pertemuan hari ini, saya ingin mengatakan pada Anda jika saya merasa komite belum mencapai level percaya diri untuk menentukan apakah Maret adalah saat yang tepat untuk itu (pemangkasan suku bunga),” tutur Powell dalam konferensi pers usai rapat FOMC, dikutip dari CNBC International.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Loyo di Perdagangan Perdana 2024, Ini Penyebabnya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts