IHSG Loyo, 7 Saham Big Cap Ini Jadi Beban


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah pada perdagangan sesi I Senin (5/2/2024), setelah dirilisnya data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2023 yang lebih rendah dari 2022.

Hingga pukul 12:00 WIB, IHSG melemah 0,37% ke posisi 7.211,997. Tetapi, IHSG masih bertahan di level psikologis 7.200.

Nilai transaksi IHSG pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 6,9 triliun dengan melibatkan 27 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 716.837 kali. Sebanyak 207 saham menguat, 296 saham melemah, dan 242 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor teknologi menjadi pemberat terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 2,4%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada sesi II hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.











Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
GoTo Gojek Tokopedia GOTO -10,37 85 -5,56%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI -8,76 5.775 -1,28%
Bank Central Asia BBCA -6,87 9.600 -1,03%
Astra International ASII -6,78 5.175 -2,82%
Sinarmas Multiartha SMMA -1,75 14.250 -1,72%
Amman Mineral Internasional AMMN -1,69 7.550 -0,66%
Bayan Resources BYAN -1,62 19.650 -0,51%

Sumber: Refinitiv

Sejalan dengan sektor teknologi yang menjadi top laggard secara sektoral IHSG di sesi I hari ini, maka saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi top laggard dari sisi saham pada hari ini, yakni mencapai 10,4 indeks poin.

IHSG yang terkoreksi cenderung mengikuti pergerakan bursa Asia-Pasifik pada hari ini, yang secara mayoritas melemah.

Per pukul 12:20 WIB, indeks Shanghai Composite China ambles 1,03%, Straits Times Singapura ambruk 1,55%, ASX 200 Australia merosot 0,95%, dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,63%.

Sedangkan untuk indeks Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong terpantau menguat masing-masingh 0,66% dan 0,86%.

Selain itu, IHSG terkoreksi setelah dirilisnya data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2023. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) RI pada 2023 hanya tumbuh 5,05%, lebih rendah dari pertumbuhan 2022 yang mencapai 5,31%.

Hal ini tidak terlepas dari situasi global. Pertumbuhan ekonomi global tumbuh tapi melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu negara mitra dagang utama seperti China, Amerika Serikat (AS), dan Jepang serta India membaik pada kuartal IV-2023.

Di sisi lain ada penurunan harga komoditas internasional. Antara lain, batu bara, minyak kelapa sawit yang merupakan komoditas ekspor andalan Indonesia.

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, dari 14 institusi memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada Oktober-Desember 2023 atau kuartal IV mencapai 5,01% (year-on-year/yoy) dan tumbuh 0,42% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq).

Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 4,94 (yoy) dan 1,60% (qtq) pada kuartal III-2023. Dengan menghitung pertumbuhan ekonomi kuartal I-III pada 2023 dan proyeksi kuartal IV-2023 maka pertumbuhan ekonomi full year 2023 akan berada di angka 5,04%.

“Kinerja perekonomian sepanjang 2023 menurut komponen pengeluaran seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif di 2023 kecuali yang kontraksi impor 1,65%,” papar Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia A. Widyasanti dalam konferensi pers, Senin (5/2/2024).

Adapun penyumbang utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga yang mampu tumbuh 4,82%. Kemudian Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 4,40%.

“Gabungan keduanya beri total kontribusi ke PDB sebesar 82,51%,” jelasnya.

Sementara itu, konsumsi LNPRT tumbuh 9,83%. Realisasi yang cukup tinggi seiring dengan peningkatan aktivitas pemilu.

“Adanya peningkatan aktivitas persiapan pemilu baik yang dilakukan peserta atau penyelenggara pemilu seperti sosialisasi rakernas rakerda dan konsolidasi nasional,” terang Amalia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Loyo di Perdagangan Perdana 2024, Ini Penyebabnya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts