IHSG Masih Cerah, 5 Saham Ini Jadi Penopangnya


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia РIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergairah pada perdagangan sesi II Jumat (15/12/2023), di tengah prospek berakhirnya era suku bunga tinggi yang semakin terlihat. 

Hal ini seiring dengan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang mengindikasikan akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada tahun depan.

Per pukul 14:32 WIB, IHSG menguat 0,12% ke posisi 7.184,613. IHSG nyaris menyentuh level psikologis 7.200 pada sesi II hari ini.

Nilai transaksi indeks pada sesi II hari ini sudah mencapai sekitaran Rp 11 triliun dengan melibatkan 15 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 691.442 kali. Sebanyak 243 saham menguat, 279 saham melemah, dan 220 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor energi menjadi penopang sekaligus penahan IHSG agar dapat tetap menguat meski cenderung terpangkas dibandingkan dengan sesi I hari ini, yakni mencapai 1,78%.

Di lain sisi, beberapa saham juga turut menjadi penopang IHSG. Berikut saham-saham yang menopang IHSG di sesi I hari ini.









Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Central Asia BBCA 8,62 9.175 1,38%
Chandra Asri Petrochemical TPIA 3,84 4.770 2,58%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI 2,93 5.575 0,45%
Adaro Energy Indonesia ADRO 2,21 2.540 2,01%
Merdeka Copper Gold MDKA 1,97 2.410 3,43%

Sumber: Refinitiv & RTI

Saham perbankan jumbo PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penopang terbesar IHSG yakni mencapai 8,6 indeks poin.

IHSG kembali bergairah terjadi di tengah optimisme pasar bahwa era suku bunga tinggi akan berakhir pada tahun depan, setelah The Fed mengindikasikan akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada pertengahan tahun depan.

Pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed mengumumkan bahwa suku bunga masih di tahan di angka 5,25-5,5%. Suku bunga yang di tahan ini merupakan ketiga kalinya yang dimulai sejak September 2023.

Chairman The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers, mengatakan jika inflasi sudah bergerak sesuai keinginan The Fed. Namun, dia mengingatkan jika inflasi masih tinggi. Dia mengingatkan jika upaya menurunkan inflasi ke target mereka yakni 2% bisa berubah dan masih belum pasti.

“Inflasi sudah melandai dari titik puncaknya tetapi tidak disertai dengan kenaikan signifikan pengangguran Ini adalah kabar yang sangat baik. Namun, inflasi masih terlalu tinggi,” tutur Powell, dikutip dariCNBC International.

Untuk diketahui, inflasi AS saat ini terus melandai ke level 3,1% (year on year/yoy) pada periode November 2023. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yakni di angka 3,2% yoy.

Sementara untuk inflasi inti masih stabil di level 4% yoy. Angka ini tak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Realisasi inflasi dan inflasi inti kali ini sesuai dengan harapan pasar, tetapi masih cukup jauh dari target the Fed yang mengharapkan inflasi turun ke 2%.

Dengan melandainya tingkat inflasi dan perekonomian yang bertahan, para pengambil kebijakan di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dengan suara bulat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pinjaman semalam dalam kisaran yang ditargetkan antara 5,25-5,5%.

Seiring dengan keputusan untuk tetap mempertahankan suku bunga, anggota komite memperkirakan setidaknya tiga kali penurunan suku bunga pada tahun 2024.

Sebanyak delapan anggota memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga setidaknya 75 bps pada tahun depan sementara lima lainnya memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih dari 75 bps. Median ekspektasi suku bunga ada di angka 4,6% dalam dot plot terbaru, turun dibandingkan 5,1% pada proyeksi September.

Pasar telah mengantisipasi secara luas keputusan untuk tetap mempertahankan suku bunga tersebut, yang dapat mengakhiri siklus kenaikan suku bunga sebanyak 11 kali, mendorong suku bunga The Fed ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun.

Berdasarkan survei dari perangkat CME FedWatch pada 14 Desember 2023 pukul 08:32 waktu setempat, menunjukkan bahwa The Fed tampak akan melanjutkan penahanan suku bunganya pada pertemuan Januari 2024 dan mulai memangkas suku bunganya pada Maret 2024.

Pemangkasan suku bunga The Fed diproyeksi mulai dilakukan pada Maret 2024 sebesar 25 bp hingga September 2024 dengan total 125 bp dan hingga Desember 2024 sebesar 150 bp hingga menjadi 3,75-4%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


IHSG Bangkit Lagi, 5 Saham Big Cap Ini Jadi Penggeraknya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts