IHSG Menguat 0,26%, Ditopang Saham Prajogo Lagi


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (16/1/2024), di tengah lesunya bursa saham global.

IHSG ditutup menguat 0,26% ke posisi 7.242,787. IHSG masih bertahan di level psikologis 7.200 hingga hari ini.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 11 triliun dengan melibatkan 21 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali. Sebanyak 272 saham terapresiasi, 241 saham terdepresiasi, dan 258 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor konsumer non-primer menjadi penopang terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 1,05%. Selain itu, sektor bahan baku juga menjadi penopang indeks sebesar 0,78%.

Selain itu, beberapa saham juga turut menjadi penopang IHSG pada akhir perdagangan hari ini. Berikut saham-saham yang menopang IHSG pada perdagangan hari ini.










Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Barito Renewables Energy BREN 17,56 4.880 10,16%
Chandra Asri Petrochemical TPIA 10,58 3.560 10,22%
Barito Pacific BRPT 3,27 1.065 4,93%
Bank Mandiri (Persero) BMRI 2,26 6.525 0,38%
Sumber Alfaria Trijaya AMRT 1,87 2.670 1,52%
Telkom Indonesia (Persero) TLKM 1,18 4.010 0,25%

Sumber: Refinitiv

Tiga emiten Prajogo Pangestu kembali menjadi top movers atau penopang terbesar IHSG pada hari ini, yakni saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 17 indeks poin, kemudian PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sebesar 10 indeks poin, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 3 indeks poin.

Selain itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menjadi movers IHSG yakni sebesar 2 indeks poin.

IHSG menguat di tengah lesunya bursa saham Asia-Pasifik pada hari ini. Hal ini terjadi karena memanasnya konflik timur tengah setelah militan Houthi menyerang kapal komersial milik Amerika Serikat (AS) di laut merah.

Sebelumnya, Houthi menyampaikan posisi kelompok tersebut tidak berubah pasca serangan yang dipimpin AS, ini mengindikasikan bahwa serangan akan terus berlanjut pada kapal-kapal yang menuju ke Israel.

Di lain sisi, IHSG yang berhasil menguat karena investor cenderung menilai positif dari surplusnya kembali neraca perdagangan RI pada Desember 2023.

Kemarin, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca dagang pada 2023 mencatat surplus US$36,93 miliar atau sekitar Rp574,6 triliun (asumsi kurs US$1 = Rp15.550), jauh lebih rendah dibandingkan pada 2022 sebesar US$ 54,46 miliar. Surplus juga dibayangi oleh melemahnya ekspor dan impor.

Impor Indonesia pada Desember 2023 bahkan tercatat terkontraksi 3,81% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Desember 2023.

Selain itu, investor masih menanti keputusan suku bunga terbaru dari Bank Indonesia (BI) yang akan dirilis pada Kamis pekan ini.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 lembaga/institusi memperkirakan secara absolute bahwa BI akan menahan suku bunga acuan (BI rate) di level 6,00%.

Suku bunga Deposit Facility kini berada di posisi 5,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Jika BI rate benar-benar kembali ditahan di level 6%, maka ini menjadi kali ketiga BI menahan di level tersebut setelah sebelumnya, BI menaikkan suku bunganya pada Oktober 2023 sebesar 25 basis poin (bp) dari 5,75%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Bangkit Lagi, 5 Saham Big Cap Ini Jadi Penggeraknya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts