IHSG Tetap Ngegas, Saham Bank Jumbo Jadi Penggeraknya


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau menguat pada perdagangan sesi I Selasa (6/2/2024), meski sentimen pasar global kembali memburuk setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) mengindikasikan akan lebih berhati-hati untuk memangkas suku bunga.

Hingga pukul 12:00 WIB, IHSG menguat 0,41% ke posisi 7.227,795. IHSG kembali menyentuh level psikologis 7.200 pada sesi I hari ini, setelah kemarin berakhir di level psikologis 7.100.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan sesi I hari ini mencapai sekitar Rp 4 triliun dengan melibatkan 7 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 579.232 kali.

Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi penggerak terbesar IHSG pada sesi I hari ini, yakni mencapai 1,04%.

Selain itu, beberapa saham juga menopang (movers) IHSG pada sesi I hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi movers IHSG.












Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI 5,88 5.825 0,87%
Barito Renewables Energy BREN 5,85 5.325 2,90%
Bank Central Asia BBCA 5,13 9.650 0,78%
Bank Mandiri (Persero) BMRI 4,54 6.875 0,73%
Astra International ASII 2,27 5.225 0,97%
Bank Negara Indonesia (Persero) BBNI 1,82 5.800 0,87%
Telkom Indonesia (Persero) TLKM 1,14 3.990 0,25%
Adaro Energy Indonesia ADRO 1,10 2.460 1,23%

Sumber: Refinitiv

Saham perbankan raksasa atau big four menjadi penopang utama IHSG pada sesi I hari ini, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling besar, yakni mencapai 5,9 indeks poin.

Selain BBRI, ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menjadi movers IHSG masing-masing 5,1 indeks poin, 4,5 indeks poin, dan 1,8 indeks poin.

IHSG menguat meski ada kabar kurang menggembirakan datang dari AS, di mana bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengatakan akan lebih berhati-hati untuk memangkas suku bunga acuannya.

Chairman The Fed, Jerome Powell dalam wawancaranya di “60 Minutes” di CBS mengatakan jika The Fed akan berhati-hati dalam memangkas suku bunga tahun ini.

Selain Powell, Presiden The Fed Neel Kashkari juga mengatakan ekonomi AS yang masih tangguh membuat pemangkasan suku bunga sulit dilakukan saat ini.

The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% pada pekan lalu. Pernyataan Powell ini langsung membuat indeks dolar dan imbal hasil US Treasury terbang.

Komentar Powell dan beberapa pejabat The Fed tersebut membuat pasar kembali skeptis akan suku bunga acuan The Fed bakal dipangkas tahun ini, setidaknya paling cepat pada Maret mendatang.

Berdasarkan survei CME FedWatch, 47,2% pelaku pasar meyakini The Fed akan memulai pemangkasan suku bunganya pada Juni 2024. Sedangkan pada pertemuan Maret dan Mei, pasar cenderung memprediksi bahwa The Fed masih menahan suku bunganya di 5,25-5,5%.

Padahal sebelumnya, pasar memprediksi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan Maret. Kemudian, ekspektasi pasar berubah menjadi ada yang tetap dipangkas pada Maret dan ada juga yang memperkirakan pemangkasan terjadi di Mei.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


IHSG Balik Bergairah Lagi, 7 Saham Ini Jadi Penggeraknya

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts