Ngenes! Window Dressing Tak Jadi, January Effect Cuma Angan?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pelaku pasar menghadapi kenyataan bahwa window dressing gagal terjadi,  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi -2,42% di bulan Desember 2022. Pada awal 2023 ini, pelaku pasar tentunya harapan pembalikan arah IHSG melalui katalis January effect. Namun, sayangnya IHSG mencatat kinerja buruk, Rabu kemarin jeblok 1,1%, sementara pada perdagangan sesi I Kamis (5/1/2022) ambrol hingga 1,7%. 

Tidak berbeda jauh dengan window dressing, istilah January Effect” sendiri digunakan untuk harga saham atau IHSG yang secara teratur cenderung naik di bulan pertama pada periode satu tahun.

Secara umum, salah satu faktor yang mendorong terciptanya January effect ini pun didasari psikologis pelaku pasar, dimana awal tahun baru menjadi bulan terbaik untuk memulai resolusi investasi atau bahkan re-investasi dana investor dari hasil investasi sebelumnya.

Secara rata-rata akumulasi kenaikan IHSG bulan Januari selama 13 tahun terakhir mencapai 0,53%. Namun pada periode 2020-2021, di tengah penyebaran Covid-19 di dunia tak terkecuali di Indonesia berimbas terhadap performa buruk IHSG yang turun sebesar -5,71% pada Januari 2020 dan -1,95% di Januari tahun 2021.

Terdapat cukup banyak indikasi yang akan mendorong perkembangan “January Effect” tahun ini, antara lain: sentimen kebijakan moneter yang dilakukan The Fed yang dikhawatirkan mendorong ekonomi dunia ke jurang resesi, rilis data keuangan emiten kuartal empat tahun 2022, dan ekspektasi rebound IHSG pasca terkoreksi di akhir tahun 2022 kemarin.

Secara rata-rata akumulasi kenaikan IHSG selama 13 tahun terakhir mencapai 0,53%. Namun pada periode 2020-2021, di tengah penyebaran Covid-19 di dunia tak terkecuali di Indonesia berimbas terhadap performa buruk IHSG yang turun sebesar -5,71% pada Januari 2020 dan -1,95% di Januari tahun 2021.

Memasuki musim rilis laporan keuangan emiten kuartal empat tahun 2022, hal ini diharapkan dapat menjadi pendorong performa IHSG dalam January effect kala ini.

Terutama emiten consumer non cyclical yang diuntungkan oleh melandainya harga input bahan baku sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan laba bersih pada laporan keuangan tahun fiskal 2022.

Kemudian, sektor perbankan pun dapat menjadi pilihan khususnya saham-saham perbankan dengan kapitalisasi raksasa yang memiliki likuiditas tinggi, setelah harga saham nya belakangan ini terkoreksi. Saham perbankan diharapkan dapat rebound dan mencatatkan performa positif pada rilis data keuangan kali ini seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

Jika kita ambil contoh kinerja salah satu saham perbankan. Misal, saham BBRI setiap bulan Januari selama 13 tahun terakhir mencatatkan rerata return sebesar 2,86% dengan 7 kali kenaikan dan 6 kali penurunan. Memang tidak jauh lebih baik dari probabilitas lemparan sebuah koin.

Sehingga investor diharuskan lebih bijak lagi dalam memanfaatkan kemungkinan volatilitas harga yang terjadi di saat January Effect tahun 2023 ini di tengah kekhawatiran akan resesi dunia yang diakibatkan dari pengetatan suku bunga yang kemungkinan masih akan dilakukan oleh bank sentral.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Saktinya IHSG Tahun Ini! Tiga Kali Tumbang, Tiga Kali Bangkit

(Mak/mak)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts