Saham Bank Jumbo Bergairah Sepanjang Tahun Ini, BMRI Juaranya


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham perbankan raksasa terpantau terus mencatatkan penguatan dan bahkan juga tak jarang mencetak rekor terbarunya sejak awal tahun hingga perdagangan sesi I Rabu (17/1/2024).

Sejak perdagangan perdana 2024 hingga hari ini, keempat saham bank raksasa melesat lebih dari 3%. Bahkan, ada yang sudah melejit lebih dari 8%.

Berikut kinerja empat saham bank raksasa sepanjang tahun ini (year-to-date/YTD).


Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi juaranya, di mana dari perdagangan perdana 2024 hingga sesi I hari ini, BMRI sudah melejit hingga 8,68%. Pada sesi I hari ini, BMRI terpantau menguat 0,77%.

Kemarin, saham BMRI sempat kembali mencetak rekor tertingginya di Rp 6.625/unit sepanjang perdagangan. Namun di penutupan, BMRI berakhir di harga Rp 6.525/unit.

Berikutnya di posisi kedua terdapat saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang melonjak 3,72%. Tak jauh-jauh, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga melesat 3,46% sepanjang tahun ini.

Pada sesi I hari ini, pergerakan keduanya pun berbeda, di mana saham BBCA masih menguat 0,52% ke posisi Rp 9.750/unit, sedangkan BBNI harus terkoreksi 0,45% menjadi Rp 5.575/unit.

Bergairahnya kembali saham-saham bank jumbo terjadi di tengah prospeknya yang cenderung cerah di 2024, meski secara valuasi, keempat saham bank raksasa tersebut sudah cenderung mahal.

Kinerja sektor perbankan sepanjang tahun 2023 mencatatkan kinerja positif dengan dorongan dari pertumbuhan kredit perbankan.

Pertumbuhan penyaluran kredit perbankan per November 2023 mencapai 9,74% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu 8,99% (yoy).

Pertumbuhan itu didorong oleh permintaan kredit sejalan dengan terjaganya kinerja korporasi dan rumah tangga. Pertumbuhan kredit secara sektoral ditopang perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, dan jasa.

Ke depannya,Bank Indonesia (BI) akan terus dorong penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan dan perkuat sinergi dengan pemerintah, otoritas, Kementerian Keuangan, perbankan, dan dunia usaha.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga, didukung oleh permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai, sehingga dinilai mampu menghadapi berlanjutnya penurunan pertumbuhan ekonomi dan tingginya ketidakpastian global.

Indikator ekonomi tahun 2023 menunjukan ketidakpastian pergerakan ekonomi secara global di tengah membaiknya tingkat inflasi menuju level pra pandemi khususnya pada negara advanced economies. Sentimen di pasar keuangan cenderung positif didukung peningkatan ekspektasi berakhirnya siklus kenaikan suku bunga global.

Dengan suku bunga lebih rendah, hal ini dapat memberikan opportunity bagi para pelaku usaha untuk melakukan ekspansi dengan mendapatkan kredit usaha lebih ringan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan kredit Perbankan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Saham Bank Jumbo Bergairah Lagi, Ikut Topang IHSG

(chd/chd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts