Soal Keluhan Jokowi Uang RI Kering, Bank Swasta Buka Suara


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini mengkritik industri perbankan yang malas menyalurkan kredit. Ia memandang bank terlalu mencari aman dengan banyak menaruh dananya di surat berharga.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), surat berharga yang dimiliki bank per September 2023 senilai Rp1.889,7 triliun, naik 3,59% secara tahunan (yoy) sementara kredit tumbuh lebih tinggi atau 8,96% yoy menjadi Rp6.837,3 triliun. Bila dilihat lebih detail, pertumbuhan surat berharga bank swasta nasional hampir setara dengan pertumbuhan kredit yang disalurkan kepada pihak ketiga. Per September 2023, surat berharga naik 7,15% yoy sedangkan kredit tumbuh 7,84% yoy.

Beberapa bank swasta pun tercatat mengalami perlambatan pada penyaluran kredit dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Bahkan, tumbuh di bawah rata-rata industri perbankan RI.

Seperti PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) atau PaninBank yang mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 5,67% yoy menjadi Rp140,2 triliun pada kuartal III-2023. Direktur Utama PNBN Herwidayatmo pun menjelaskan pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari industri tersebut disebabkan karena pihaknya berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

“Pertumbuhan kredit hingga Triwulan III tahun 2023 lebih rendah dari industri karena PaninBank cukup hati-hati dan selektif, guna menjaga kualitas kredit. PaninBank juga melakukan pembenahan internal agar lebih siap untuk tumbuh lebih agresif pada tahun 2024,” ujar Herwidayatmo saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (11/12/2023) lalu.

Ia memaparkan bahwa penanaman PaninBank dalam surat berharga sebesar Rp31 triliun per 30 September 2023. Menurutnya, jumlah itu tidak berubah dibanding posisi per 31 Desember 2022.

“Sebesar 96% dari jumlah tersebut berupa Surat Berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah,” tambah Herwidayatmo.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menyatakan telah mengurangi porsi surat berharganya. Menurut Presiden Direktur BNGA Lani Darmawan, penempatan di surat berharga justru menurun.

CIMB Niaga pun tercatat menyalurkan kredit sebesar 5,2% yoy menjadi Rp205,6 triliun pada sembilan bulan pertama tahun ini. Hal itu disebabkan bank asal Malaysia itu lebih konservatif dalam menjalankan fungsi intermediasi.

“Kami lebih konservatif karena faktor cost of fund yang masih tinggi. Sehingga porsi untuk korporasi mengalami pertumbuhan lebih kecil. Sehingga, secara overall relatif lebih kecil. Kami fokuskan kepada kualitas asset yang bisa dipertahankan bagus,” ujar Lani saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (7/12/2023) lalu.

Selanjutnya, PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) tercatat menyalurkan kredit dan pembiayaan syariah lebih tak sampai 1% yakni 0,87% yoy menjadi sebesar Rp112,42 triliun pada kuartal III-2023. Presiden Direktur BNII Taswin Zakaria menjelaskan bahwa penurunan ini terjadi karena adanya pelunasana besar oleh nasabah korporasi bank.

“Kebetulan Q3 kemarin ada pelunasan besar dilakukan oleh nasabah korporasi/BUMN kami. Tapi segmen lain secara konsolidasi tumbuh sekitar 6% namun angka bank wide terimbas pelunasan besar tadi,” ujar Taswin saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (11/12/2023) lalu.

Dirinya tidak melihat bahwa industri perbankan lebih memilih untuk menempatkan uangnya pada penyaluran kredit.

“Pembelian surat berharga kita ya sama saja dengan bank lain di surat hutang negara maupun korporasi. Saya tidak sependapat bahwa bank lebih memilih beli surat berharga daripada penyaluran kredit,” kata Taswin.

Selain ketiga bank tersebut, satu bank swasta lainnya PT Bank Permata Tbk. (BNLI) atau PermataBank mencatatkan pertumbuhan kredit mini, yakni sebesar 2,4% yoy menjadi Rp138,9 triliun per September 2023. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik pun turun 4,6% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

CNBC Indonesia sudah beberapa kali berupaya mengenai penyaluran kredit lesu dan penempatan surat berharga ke corporate communication PermataBank, namun sampai saat ini belum mendapat respon.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pak Jokowi, Bank Sulit Dorong Kredit, Permintaannya Lesu!

(fsd/fsd)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts