Sugoi! Mesin J Trust Bank Melaju Selama Pandemi


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank J Trust Indonesia Tbk (BCIC) atau J Trust Bank punya strategi unik dalam mengelola bisnis sepanjang krisis kesehatan yang terjadi akibat Pandemi COVID-19. Dalam kurun 2020-2022, mesin bisnis perseroan malah melaju kencang. Terutama dalam dua tahun terakhir.

Kinerja keuangan J Trust Bank terus menunjukkan tren positif sejak 2021. Pada 2020, perseroan memang mengalami kerugian bersih mencapai Rp 484,44 miliar. Namun setahun berikutnya mampu menggenjot pendapatan bunga bersih cukup signifikan sehingga pos laba-rugi membaik dengan posisi rugi bersih menjadi Rp 445,42 miliar.

Kala itu, Direktur Utama J Trust Bank, Ritsuo Fukadai mengatakan meskipun pandemi yang berkepanjangan memberikan tantangan ekstra bagi bank, perseroan tetap fokus untuk memprioritaskan kebutuhan nasabah. Pun melaksanakan rencana bisnis bank serta berkontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan untuk mendukung keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan.

“Kami juga tetap berkomitmen melakukan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan untuk membantu masyarakat dan mendukung pemerintah dalam mengatasi COVID-19,” tutur Fukadai dalam keterangan tertulis.

Tidak berhenti di situ, laju kinerja keuangan J Trust Bank semakin menggelinding sepanjang 2022. Bank berkode emiten BCIC ini mampu membukukan laba bersih Rp 86,62 miliar. Pencapaian sangat mentereng bila dibandingkan dari posisi tahun sebelumnya.

Sebagai gambaran, peningkatan pos laba-rugi tidak bisa dilepaskan dari kinerja perkreditan yang dilakukan J Trust Bank. Di mana terlihat jelas mesin kredit perseroan mampu bekerja secara maksimal. Secara tren, pertumbuhan positif fungsi intermediasi terlihat dari kenaikan outstanding kredit dari Rp 7,3 triliun pada 2020, menjadi Rp 10,01 triliun pada 2021. Lalu puncaknya meningkat drastis hingga 95% menjadi Rp 19,53 triliun pada 2022.

“Kita malah high flypas pandemi. Gede banget hampir double(pertumbuhan kredit). Karena pas pandemi lagi nahan (bank lain), kita siap (menyalurkan kredit) lagi growing,” ungkap Manajemen JTrust Bank kepada CNBC Indonesia.

Kendati sangat ekspansif dari sisi penyaluran kredit, perseroan mampu menjaga tata kelola perusahaan dengan mengawal tingkat rasio kredit bermasalah (NPL), yang juga punya tren sangat baik. Dari tahun ke tahun, NPL gross J Trust Bank terus membaik dari 4,97% pada 2020, menjadi 3,90% pada 2021, dan semakin oke di level 1,80% pada akhir 2022.

Peningkatan kualitas kredit ini pun diakui Manajemen J Trust Bank. Sebagai salah satu ujung tombak di lini bisnis kredit konsumer, bisnis KPR perseroan terus dipacu. “Pada 2020 agak rem tapi tetap on the track. 2021 (saat Pandemi COVID-19) meningkat itu karakter itu nasabah malah memang yang punya duit untuk membeli. Jadi malah meningkat,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dengan banyaknya kebijakan perusahaan untuk melakukan kebijakan pemotongan upah justru menjadi berkah atau a blessing in disguise bagi bisnis bank. Karena secara alami akan menyeleksi kemampuan calon debitur, dalam hal ini seperti yang terjadi di bisnis KPR J Trust Bank.

Sebagaimana diketahui, sesuai dengan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor M/3/HK.04/III/202 Tentang Perlindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19, perusahaan diperbolehkan untuk melakukan pemotongan upah. Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi aksi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran oleh perusahaan yang terdampak COVID-19. Namun tetap dengan adanya kesepakatan antara pengusaha dengan pekerja atau buruh.

[Gambas:Video CNBC]

(dpu/dpu)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts