Warga RI Makan Tabungan & DPK Lesu, Ini Kata OJK


Read More

Jakarta, CNBC Indonesia – Pertumbuhan tabungan kian lesu. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hanya naik 3,9% secara tahunan (yoy) per Oktober 2023. Bila merinci laporan Bank Indonesia (BI), pertumbuhan giro anjlok jauh menjadi 1,8% pada Oktober 2023, dari yang sebulan sebelumnya double digit 11,0%.

OJK pun memandang perlambatan ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat sedang bergerak. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae mengatakan hal ini juga menunjukkan kepercayaan diri sektor riil dalam kegiatan ekonomi pasca-pandemi.

“Pertumbuhan DPK yang menunjukkan melambat saat ini kami pandang merupakan salah satu cerminan dari munculnya kegiatan-kegiatan ekonomi di masyarakat yang memerlukan pendanaan dan bahwa masyarakat serta sektor riil memiliki optimisme untuk melakukan kegiatan ekonomi yang kala pandemi lalu terkendala,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/12/2023).

Dian mengingatkan bahwa saat masa pandemi Covid-19, DPK perbankan mengalami laju pertumbuhan yang relatif tinggi karena kurangnya kegiatan masyarakat dan sektor riil masih belum memiliki keyakinan penuh terkait berakhirnya pandemi. Maka demikian, mereka menahan ekspansi usahanya.

Terkait tren pertumbuhan DPK ke depannya, Dian mengatakan otoritas masih mengevaluasi seluruh rencana bisnis bank (RBB) tahun 2024.

“Terkait dengan proyeksi pertumbuhan DPK perbankan, saat ini RBB bank-bank baru saja disampaikan dan sedang dianalisis atau dievaluasi, termasuk yang terkait dengan target pertumbuhan DPK di tahun mendatang,” pungkasnya.

Sementara itu, data Bank Indonesia menunjukkan fenomena makan tabungan masyarakat Indonesia semakin menjadi. Berdasarkan Survei Konsumen dari Bank Indonesia, rasio tabungan terhadap pendapatan per Oktober 2023 turun jauh dibandingkan posisi sebelum pandemi Covid-19 atau Oktober 2019.

Pada bulan kesepuluh tahun ini rasio simpanan terhadap pendapatan masyarakat Indonesia sebesar 15,7%. Pengeluaran dan pembayaran cicilan, masing-masing 76,3% dan 8,8%.

Pada bulan yang sama tahun 2019, rasio simpanan terhadap pengeluaran masyarakat di Tanah Air masih jauh lebih besar, yakni 19,8%. Pasalnya pengeluaran dan pembayaran cicilan pada periode itu sebesar 68% dan 12,2%.

Berdasarkan data BI, kelompok masyarakat dengan pendapatan Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta yang mengalami penurunan rasio simpanan terhadap pendapatan paling dalam atau sebesar 460 basis poin (bps). Kemudian disusul oleh kelompok pendapatan Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta, yakni merosot 400 bps.

Kelompok pendapatan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta yang tercatat mengalami penurunan rasio paling kecil atau 180 bps.

Imbasnya, sepanjang tahun ini simpanan masyarakat di Indonesia tumbuh seret, bahkan per Oktober 2023 dana pihak ketiga (DPK) perbankan hanya tumbuh 3,9% secara tahunan (yoy).

Direktur Eksekutif Center of Reform Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan hal itu menjadi indikasi bahwa ada fenomena makan tabungan di masyarakat Indonesia. Dia menduga ada penurunan pendapatan, sehingga porsi tabungan harus diambil untuk menutupi kebutuhan.

“Konsumsi ini ada primer sampai tersier. Primer ini tidak bisa dikurangi, jadi kalau kurang mau tidak mau harus ambil dari tabungan,” katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu, (2/11/2023).

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


DPK Perbankan Melambat, Ini Cara Panin Serap Dana Masyarakat

(mkh/mkh)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts