5 Daftar Negara Terancam Mengalami Petaka!

Jakarta, CNBC Indonesia – Dunia kini dihadapkan dengan persoalan inflasi yang tinggi serta kenaikan suku bunga acuan yang agresif oleh bank sentral dunia. Alhasil, potensi perlambatan ekonomi hingga resesi pun menjadi kian nyata.

Read More

Bahkan, daftar negara-negara yang berpotensi masuk ke jurang resesi pun mulai bertambah.

1. Selandia Baru

Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) memprediksikan bahwa ekonomi Negeri Kiwi tersebut akan mengalami resesi selama satu tahun penuh. Kontraksi akan mulai terjadi pada kuartal II-2023 dan akan terus menurun hingga kuartal 2024.

Seperti diketahui, pada Rabu (23/11), RBNZ memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) dan membawa tingkat suku bunga menjadi 4,25%. RBNZ melihat adanya potensi kenaikan suku bunga hingga 5,5%.

Padahal, kenaikan suku bunga tersebut telah terjadi selama sembilan kali beruntun. RBZN telah menaikkan suku bunga 400 basis poin sejak Oktober 2021. Ini merupakan pengetatan kebijakan paling agresif sejak 1999. Tingkat tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

2. Singapura

Serupa, Singapura juga diproyeksikan akan mengalami pelemahan ekonomi hingga tahun depan karena pasar ekspor utama termasuk Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China melemah. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Fed dan hambatan akibat perang Rusia dan Ukraina menambah beban ekonomi Singa tersebut.

Kementerian Perdagangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 3,5% di 2022. Namun, di 2023, ekonomi Singapura diprediksikan akan turun menjadi 2,5%.

“Prospek permintaan eksternal Singapura semakin melemah karena prospek yang lebih lemah untuk ekonomi zona euro di tengah krisis energi, serta China karena terus bergulat dengan wabah Covid-19 yang berulang dan penurunan pasar properti,” kata kementerian itu, Rabu (23/11/2022).

3. Inggris

Bank of England (BOE) menjadi bank sentral yang paling terang-terangan menyatakan akan mengalami resesi. Bahkan, resesi yang terpanjang dalam sejarah.

Biro Statistik Inggris pada Jumat (11/11/2022) pekan lalu melaporkan produk domestik bruto (PDB) di kuartal III-2022 mengalami kontraksi sebesar 0,2% dari kuartal sebelumnya. Sementara jika dilihat dari kuartal III-2021, PDB mampu tumbuh 2,4%. Jika di kuartal IV nanti PDB kembali mengalami kontraksi, maka Inggris dikategorikan masuk resesi teknikal.

“Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan terus merosot selama 2023 dan berlanjut hingga semester I-2024 akibat tingginya harga energi dan pengetatan kondisi finansial akan membebani belanja rumah tangga,” kata BoE.

Tingkat pengangguran diprediksi akan naik dua kali lipat menjadi 6,5% selama dua tahun ke depan, saat perekonomian merosot.

Hal itu diungkapkan saat menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3% pada Kamis pekan lalu. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam 33 tahun terakhir.

Meski akan mengalami resesi, tetapi BoE menegaskan masih akan terus menaikkan suku bunga. Dalam kondisi normal, ketika perekonomian mengalami kontraksi hingga resesi, bank sentral akan menurunkan suku bunganya.

Hal ini bertujuan untuk menyuntikkan likuiditas ke perekonomian sehingga aktivitas bisnis bergulir lebih cepat. Perekonomian pun diharapkan tumbuh lebih tinggi.

Namun, dalam kondisi saat ini, bank sentral lebih memilih mengalami resesi ketimbang menghadapi inflasi tinggi yang berkepanjangan.

4. Kanada

Bank Sentral Kanada (Bank of Canada/BoC) pada akhir Oktober 2022 mengatakan bahwa perekonomiannya akan stagnan dalam 3 kuartal ke depan. Namun, mereka masih gigih untuk menaikkan suku bunga acuannya.

“Periode pengetatan moneter hampir selesai. Kita sudah dekat, tetapi belum sampai,” kata Gubernur BoC, Tiff Macklem, dalam konferensi pers sebagaimana dilansir¬†Reuters, Rabu (26/10/2022).

5. Eropa

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memproyeksikan Eropa akan menjadi blok yang paling terpukul akibat perlambatan ekonomi global.

Pada Selasa (22/11), OECD memproyeksikan ekonomi zona euro akan melambat dari pertumbuhan 3,3% tahun ini menjadi 0,5% pada 2023 sebelum pulih untuk tumbuh sebesar 1,4% pada 2024.

Data terbaru sedikit lebih baik daripada prospek terakhir OECD pada September, ketika pertumbuhan 3,1% diperkirakan untuk tahun ini dan 0,3% pada tahun 2023.

OECD memperkirakan kontraksi 0,3% tahun depan di kelas berat regional Jerman, yang ekonominya didorong oleh industri sangat bergantung pada ekspor energi Rusia, kurang dari penurunan 0,7% yang diperkirakan pada September.

Sementara untuk ekonomi Prancis, yang tidak begitu bergantung pada energi Rusia, diperkirakan akan tumbuh 0,6% tahun depan. Italia terlihat mengalami pertumbuhan 0,2%, yang berarti beberapa kontraksi triwulanan kemungkinan terjadi.

Perlambatan ekonomi hingga potensi resesi yang terjadi di negara-negara tersebut terjadi setelah bank sentral bergelut dengan angka inflasi yang meninggi dengan menaikkan suku bunga acuannya secara agresif.

Inflasi

Jika menilik, negara-negara yang diprediksikan akan mengalami resesi dan perlambatan ekonomi, rata-rata memiliki angka inflasi yang tinggi.

Singapura mencatatkan inflasi sebesar 6,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Oktober 2022, turun dari bulan sebelumnya sebesar 7,5% yoy. Berdasarkan data resmi yang dirilis Rabu,inflasi Oktober itu juga lebih rendah dari proyeksi para ekonomi sebesar 7,1% yoy.

Angka inflasi tersebut memang sudah melandai dari rekor tertingginya dalam 14 tahun, tapi inflasi masih diprediksikan akan meninggi. Untuk 2022 secara keseluruhan, inflasi diperkirakan rata-rata sekitar 6%. Inflasi inti sekitar 4%.

“Inflasi Inti diproyeksikan akan tetap tinggi dalam beberapa kuartal berikutnya sebelum melambat lebih nyata di semester II-2023 karena pengetatan di pasar tenaga kerja domestik mereda dan inflasi global moderat,” kata Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI), dikutip dariChannel News Asia (CNA).

Sedangkan, Statistik Selandia Baru merilis angka inflasi di kuartal ketiga mencapai 7,2%, berada tepat di bawah level tertinggi dalam tiga dekade. Meski inflasi telah melandai jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di 7,3%. Namun, angka inflasi tersebut masih dinilai cukup tinggi.

Tingkat inflasi Kanada pada Oktober 2022 mencapai 6,9% (yoy), tidak berubah dari bulan sebelumnya, dan sejalan dengan ekspektasi. Percepatan pertumbuhan harga bahan bakar motor dan hipotek mengimbangi perlambatan inflasi makanan.

Serupa, inflasi di Inggris per Oktober 2022 mencapai 11,1% (year-on-year/yoy) tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Kenaikan suku bunga yang agresif bertujuan untuk menurunkan inflasi tersebut.

Sementara, Kantor Statistik Inggris (Office for National Statistics/ONS) melaporkan angka inflasi Inggris per Oktober 2022 berada di 11,1% secara tahunan. Naik 2% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya di 10,1% yoy. Inflasi tersebut juga merupakan level tertingginya dalam 41 tahun terakhir.

Inflasi yang terparah terjadi di Eropa, harga-harga di 19 negara yang menggunakan euro meningkat ke 10,7% pada Oktober 2022, naik dari bulan sebelumnya di 9,9%. Angka inflasi tersebut menjadi rekor tertinggi karena harga energi dan harga pangan meninggi.


TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Eropa Dibuka Menguat 1% Lebih, Ada Sentimen Apa?

(aaf/aaf)


Sumber: www.cnbcindonesia.com

Related posts